yang pada tahun 1979 telah dipindahkan bersamaan dengan penduduk pendukungnya yang dahulunya tinggal di sekeliling pura. Penduduk pendukung agama Hindu, (klik) | peninggalan masa lalu itu dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan bangunan lingga yang merupakan peninggalan masa pra-sejarah. Menurut Haris Sukendar, pura Linggoasri yang dibangun menggunakan bahan-bahan batu kali tersebut merupakan konsep awal di dalam suatu bangunan candi pada masa peralihan dari masa pra sejarah akhir memasuki masa sejarah. Dari Linggoasri selain terdapat artefak yang terdiri dari benda-benda berupa bangunan suci atau pura sampai sekarang masih terpelihara dan digunakan oleh masyarakat pendukungnya.



Struktur Pemerintahan
Pada masa kerajaan Mataram Kuno Syailendra struktur pemerintahan berbentuk kerakaian yang mengikuti sistem kerajaan monarkhi primodial agraris yang berpusat di Jawa Tengah pedalaman. Pada masa awal pemerintahan Wangsa Syailendra di utara (di Limpung Batang) mungkin kerakaian Pekalongan langsung di bawah pusat pemerintahan kerajaan. Akan tetapi ketika pemerintahan berpusat di Ratuboko dan Dieng, kerakaian Pekalongan tidak langsung di bawah kekuasaan kerajaan akan tetapi di bawah pemerintahan para rakai yang berpusat di Parakan.
Pekalongan dipimpin oleh Rakai Rakyan Betung dengan pusat pemerintahannya di Petungkriono yang membawahi wilayah Perdikan, Desa (Wanua) dan Sima. Desa-desa atau wanua dan Sima seperti Wonopringgo, Wonoyoso, Wonokerto, Wonosegoro, Wonobodro, dahulunya adalah nama-nama desa yang kepala desanya disebut Patani. Pada masa kejayaan kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah, wilayah Pekalongan dengan desa-desa dan simanya merupakan tempat pemukiman penduduk yang relatif organisasinya teratur.
Sistem kemasyarakatan yang berlaku pada masa Pekalongan kuno mengikuti struktur kemasyarakatan jawa pada masa Mataram jaman hindu budha. Perekonomian penduduk sebagian besar pada sektor pertanian. Di dataran rendah terdapat pencetakan sawah secara besar-besaran sampai ke daerah pedalaman. Peninggalan-peninggalan berupa sarana pengairan seperti patung Jaladwara (saluran air) dan patung Siwa yang biasanya ditempatkan di sawah-sawah dan kebun-kebun merupakan cerminan sebagai agama yang dipeluk oleh penduduknya. Pencetakan sawah tersebut mengikuti kontur tanah yang cenderung mengarah ke utara sebagai akibat abrasi berupa rawa-rawa hingga menjadi delta-delta kemudian menjadi daratan. Hal itu terjadi setelah timbulnya pendangkalan sebagai akibat sedimentasi berupa rawa-rawa dan Pekalongan mengalami babakan baru sebagai Pekalongan baru.
Warisan budaya klasik Hindu pada masyarakat Pekalongan terutama yang ada di gunung-gunung pada peninggalan kuno yang bersifat tangible (wujud) adalah candi-candi di Petungkriono, Doro, Linggo dan arca-arca di tempat lain yang sampai sekarang masih ada. Sedangkan yang berupa intangible adalah adanya suatu tradisi masyarakat yang sebelumnya ada di lingkungan niaga di mana posisinya jauh dari wilayah primordial (kerajaan) menjadi masyarakat merdeka atau bebas dan tidak bergantung pada perlindungan pemerintahan pusat. Warisan masa klasik dan pra sejarah ikut membangun pikiran masyarakat Pekalongan untuk menggunakan kehidupan tradisi lama yang bersifat mistis dan mistik. Yang mana kebudayaan tradisi semacam itu akhirnya menjadi dasar-dasar pemikiran Jawa pada umumnya.

MUNCULNYA PEMUKIMAN BARU DI PEKALONGAN
Pekalongan Masa Abad XII – XIV Masehi
Pertumbuhan penduduk dan pemukiman mengikuti proses perkembangan dari lingkungan alam yang berubah-ubah. Diketahui bahwa Pekalongan pada abad ke XI Masehi sudah dikenal sebagai kota pelabuhan yang disebut Poe-Chue-Lang. Dan letak pelabuhan yang ada di Doro atau Jou-tung (bahasa Cina yang artinya lembah) sama dengan Doro yang artinya lembah dalam bahasa Sansekerta. Sejarah Pekalongan pada masa abad XI hingga abad XIV Masehi hampir dapat dikatakan gelap, tak ada sumber-sumber yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui perkembangan budaya masyarakat Pekalongan. Berita Cina tentang Che-Poe (Jawa) pada masa peralihan dari Dinasti T’ang ke Dinasti Sung tahun 960 – 1279 tak banyak menceritakan secara rinci tentang kota-kota pelabuhan di Jawa yang berhubungan dengan perniagaan dan pemerintahan kerajaan yang di seberang. Kronik tempatan satu-satunya yang berhubungan dengan kerajaan di Pekalongan pada abad XI kita peroleh dari naskah sunda dalam Cariosan Prabu Siliwangi. Naskah tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1133 dan 1533 raja-raja dari Kerajaan Pajajaran telah mengadakan hubungan persekutuan dengan raja Ponggang, Singapura, Sumedang, Kawali, Panjalu, Pekalongan dan Blambangan.
Nama Pekalongan telah memberikan petunjuk adanya suatu pemerintahan kerajaan meskipun kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan Ponggang, Singapura, Sumedang, semuanya berada di Jawa Barat (Sunda). Kecuali Panjalu, Blambangan dan Pekalongan yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada abad XI kerajaan yang dapat dikatakan berkembang hingga menguasai pantai Jawa adalah Panjalu yang berkuasa pada tahun 1178 dan Jenggala (Blambangan). Berkat kemenangan Raja Jayabaya, Kerajaan Panjalu dapat dipersatukan kembali. Kerajaan Sunda yang berdiri pada abad XI Masehi dan telah mengadakan persekutuan dengan raja Jawa Tengah seperti kerajaan Pekalongan dan Panjalu di Jawa Timur adalah kerajaan Galuh Pajajaran, yang berada di sekitar Ciamis dan Majalengka.Next Here...

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus