X Masehi baik di bawah Sanjaya maupun Syailendra memberi petunjuk tentang letak pelabuhan kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah. Sementara sejarah Asia Tenggara kepulauan yang memisahkan antara pulau dan pulau yang mana lautan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya telah menjadi lalu lintas perdagangan inter oceanis. Perhubungan pelayaran perdagangan telah membuat hubungan perdagangan tidak hanya berlaku antar negara akan tetapi juga antar pulau.
Dengan demikian kerajaan Jawa Tengah seperti Mataram Kuno sebagai salah satu kerajaan besar di Asia Tenggara pada abad VIII tentu memiliki pelabuhan besar yang dijadikan pusat lalu lintas perdagangan maupun hubungan internasional. Kurangnya sumber-sumber mengenai pelabuhan niaga kerajaan Mataram Jawa Tengah akan sulit diketahui di mana letak pelabuhannya. Sementara itu perdagangan antar negara seperti Cina, pada periode Dinasti Sung mengenal Jawa dari hasil padi yang dikirimkan melalui pelabuhan Jawa yang disebut Poe-Chue-Lang (Che-poe). Di pantai Jawa Tengah masa kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berada di garis pantai purba. Seperti Semarang, dahulu kala terletak pada muara sungai Simongan, Celong di wilayah Batang, Bandar di wilayah Batang, dan Doro di wilayah Pekalongan.
Nama Pekalongan adalah satu-satunya lokasi yang memiliki konotasi ejaan yang menurut sinologi pada Dinasti Sung abad XII Masehi menyebut Jawa Poe-Chue-Lang. Pada masa itu perkembangan bahasa terus berubah-ubah baik pengucapannya maupun morfologinya. Kemudian mendapat masukan dari bahasa melayu kuno dan sansekerta. Sehingga Poe di dalam bahasa Cina bisa menjadi Pa pada bahasa Sansekerta, misalnya Java Dipa yang artinya pulau, kemudian Coe pada bahasa Cina masa Dinasti Sung menjadi Java dalam bahasa Sansekerta.
Nama Pekalongan adalah hasil perubahan konsonan yang diucapkan baik yang diucapkan oleh penduduk asing, cina lokal dan pendatang maupun penduduk di negara Cina itu sendiri untuk menyebut Poe menjadi Pe, Calang menjadi Kalong, (halong) yang artinya tidak berubah sebagai pulau penghasil padi atau Coe-Poe. Oleh karena itu para arkeolog seperti Setiawati Sulaiman, sesuai dengan apa yang diucapkan Cou-Ju-Kua bahwa Coe-Pe adalah sama dengan Poe-Chue-Lang (Pekalongan). Dan pendapat ini juga didukung oleh W.P. Groeneveldt yang mengidentifikasikan toponim Poe-Chue-Lang dengan Pekalongan. Pekalongan terletak di utara barat Jawa Tengah yang pada masa abad XII Masehi, letaknya berada di pegunungan tepi pantai purba. Wilayah tersebut dapat ditengarai kemungkinan di Doro, Petungkriono maupun daerah-daerah sekitarnya termasuk Kajen atau Kedungwuni.
Mengapa Cina tetap mengenakan sebutan Pekalongan untuk pulau Jawa, bukannya Java Di seperti yang disebutkan oleh orang-orang India dan Arab pada waktu itu menyebut Jawa sebagai Za Ba yang artinya jazirah pulau seperti dikatakan oleh Abu Ziad terhadap Pulau Jawa.
Beberapa sebab dapat dikemukakan sebagai berikut, yaitu antara lain bahwa pertama, dengan kedudukan kerajaan-kerajaan di Jawa sejak masa abad VIII Masehi hingga abad XII Masehi, kerajaan-kerajaan di Jawa merupakan kerajaan yang merdeka, artinya mendapat perlindungan kekaisaran Cina. Nama kerajaan dan nama rajanya seringkali tidak dikedepankan. Raja Sanjaya disebut sebagai Ki Yen. Profil kerajaan Jawa kuno yang berada di pedalaman bersifat agraris. Di daerah pedalaman sarana dan prasarana di dalam komunikasi serta jarangnya pertumbuhan penduduk, telah menghambat lalu lintas perekonomian setempat. Kerajaan Mataram Kuno yang merupakan pusat dari masyarakat primordial agraris, sektor ekonomi perdagangan luar negri tidak menjadi prioritas utama. Di samping itu daratan terbentuk dalam bentang geografi yang berbeda-beda. Sebagian pantai purba di utara Jawa Tengah dari permukaan tanah bergunung-gunung. Dataran tingginya dipenuhi hutan-hutan karena lalu lintas perdagangan ekspor antar negara hanya dilakukan oleh keluarga raja. Pelabuhan sebagai tempat singgahnya kapal-kapal niaga tidak dibangun secara permanen sehingga pelabuhan hanya sebagai sandaran kapal-kapal yang bersifat sementara.
Pekalongan adalah nama suatu tempat (pelabuhan) di pulau Jawa yang menghasilkan padi dan rempah-rempah. Pelabuhannya lebih dikenal oleh para pedagang asing daripada kerajaannya. Bandar dan Doro yang mewakili masing-masing masa abad ke VIII dan XII merupakan pelabuhan kuno bagi kerajaan-kerajaan di Jawa.
Bandar dan Doro pada abad VIII Masehi berada di garis pantai purba. Tempat itu sekarang letaknya agak jauh dari laut, akan tetapi mungkin dahulu kala lebih dekat mengingat bertambahnya tanah ke utara akibat proses sedimentasi (Setiawati Sulaiman & Sutoto, SU). Nama Pekalongan muncul sejak hubungan dagang antara Jawa Tengah (Mataram Kuno) pada masa Dinasti Syailendra dan Sanjaya dengan kerajaan Cina masa Dinasti Sung pada abad VII – VIII Masehi dan XII Masehi.
Pada tahun 1178 Chou-ku-fei masih menyebut nama Pekalongan sebagai Poe-Chue-Lang. Mengutip karya Chou-ku-fei, pada tahun 1225, Chou-ju-kua di dalam Chu-fan-chi tetap menuliskan sebagai Poe-Chua-Lung (Pekalongan). Dengan demikian nama dan tempat wilayah Pekalongan yang menduduki daerah pegunungan Rogojembangan dan sekitarnya di garis pantai kuno seperti Doro, Talun, Kajen, Peninggaran, Lebak Barang merupakan wilayah Pekalongan yang dapat disebut sebagai wilayah Pekalongan kuno.Next Here....

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus