INFORMASI BUAT PENGUNJUNG!!!

Owner Wapmild Sekarang Aktive Di www.sfm.9in.us

Latar Belakang Geografi
Di atas peta wilayah Kabupaten Pekalongan bak sebuah bidak catur berbentuk pendulum. Lokasi wilayah kabupaten Pekalongan yang luasnya kurang lebih 835,13 km2 itu, memiliki kontur geografis yang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi.
Wilayah yang terletak di antara 60 – 70 23’ lintang selatan dan antara 1090 – 109073’ bujur timur. Dibatasi dengan wilayah dan format yang mengerucut di antara garis pantai laut Jawa Pekalongan. Dan di sebelah selatan melebar yang terdiri dari daerah pegunungan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Sementara di sebelah timur dan barat dua buah sungai yaitu sungai Kupang atau sungai Warungasem di sebelah timur, ketika alurnya membelah kota disebut kali Loji.

Sungai ini telah menjadi batas antara wilayah Kabupaten Batang dengan Pekalongan. Sementara di sebelah barat dibatasi dengan sungai Comal dan menjadi batas wilayah dengan kabupaten Pemalang.
Meskipun demikian sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan sungai, yang sejak dahulu pada umumnya dijadikan batas wilayah pada masa sekarang tidak bisa dipertahankan mengingat pertumbuhan penduduk dan penggunaan lahan-lahan di sekitarnya sesuai dengan peraturan pemerintah otonomi daerah.
Dalam kontur morfologi wilayah Kabupaten Pekalongan yang terdiri dari dataran pantai dan gunung memiliki jenis tanah yang tidak sama. Meskipun keseluruhan dalam geologi batu-batuan adalah merupakan jenis miosen. Namun dilihat dari morfologi tanah dapat diketahui mengandung beberapa unsur dari kandungan tanah yang terdapat di beberapa daerah. Misalnya jenis tanah di kecamatan Peninggaran, Kandangserang, dan Doro yang daerah itu merupakan perbukitan dalam wilayah Pegunungan Rogojembangan menunjukkan jenis tanah latosal coklat. Sementara itu masih pada daerah yang sama ke arah barat di wilayah Karanganyar, Kajen, Kesesi, Sragi, Bojong, Wonopringgo, Kedungwuni, dan Tirto menunjukkan jenis tanah pada komplek Gromosal (meditarien) dan latosal coklat.
Kemudian ke arah utara, yang kontur tanahnya lebih landai dan rata (datar) seperti daerah kecamatan Sragi, Kajen, Bojong, Buaran, Tirto dan Wiradesa memiliki jenis tanah aluvial kelabu. Dari sebagian daerah itu selain aluvial kelabu ada yang berjenis coklat. Dan daerah tersebut hampir memiliki beragam jenis yang merupakan komplek dari latosal dan andusal.
Wilayah-wilayah yang terdiri 19 tingkat kecamatan dari 282 desa/ kelurahan yang ada, 6 desa merupakan desa pantai dan 276 desa merupakan desa bukan pantai. Dari persentase keletakan (topografi) terdapat 58 desa tingkat kelurahan berada di daerah dataran tinggi (20%) dan sebanyak 224 desa/kelurahan merupakan desa di dataran rendah (80%).

Geomorfologi
Hubungan keberadaan wilayah dan pertumbuhan dalam komunitas kehidupan manusia yang berlangsung dari masa ke masa berkaitan erat dengan fase-fase kesejarahan dan budaya. Pemukiman desa maupun kota di wilayah kabupaten Pekalongan sebagian besar berada di dataran pesisir (di wilayah dataran). Meskipun jumlah desa relatif lebih sedikit dibanding di wilayah dataran tinggi (pegunungan) besarnya jumlah penduduk di pantai tersebut di luar perhitungan jumlah penduduk yang berada di wilayah pemerintahan kota Pekalongan. Di dalam pengembangan pemukiman baik di desa maupun di kota pertumbuhannya hampir sama dengan wilayah lain khususnya di kota-kota di wilayah daerah eks karesidenan Pekalongan. Yang menjadi permasalahan sejak kapan dataran ini terbentuk di mana posisi garis pantai pesisir Pekalongan terbentuk hingga sekarang.
Kecuali dari sumber-sumber penelitian geologi, tidak ada sumber lain yang dapat memberikan informasi tentang pertumbuhan geologi pantai Jawa mulai dari sejak pembentukannya. Geolog pertama yang menempatkan garis pantai kuno di wilayah Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes berada di selatan, adalah Bemmelen. Yang menyebutkan bahwa dataran pesisir Jawa Tengah mempunyai lebar maksimal 40 km di selatan Brebes di lembah sungai Pemali dan menyempit hingga 20 km selatan Tegal dan Pekalongan (Bemmelen, 1949).
Tjia dkk, 1978 (dalam Ongko Songo dan Kinarti 1980 : 39-40) menyebutkan bahwa perkembangan pantai Jawa tengah utara dapat diketahui sekitar 55 – 160 meter setiap tahun. Nex here...

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus RSSground.com