Raja Sunda Pajajaran yang hidup pada masa abad XI sejaman dengan Panjalu (klik) » di Jawa Timur adalah Raja Bingba Sora. Raja tersebut berkuasa sebelum pemerintahan Raja Wastu Kencana, nenek nda Prabu Siliwangi. Nama Bingba Sora yang diperdewakan sebagai raja Pertapa dalam prasasti Kawali Nomor 4 disebut “Sang Hyang Lingga Bingba” atau Sang Hyang Lingga Hyang (prasasti Kawali Nomor 5). Frederick dan Pleyth yang membaca isi prasasti tersebut tidak menemukan angka tahun pembuatan. Namun ia mengatakan bahwa bahwa Sang Hyang Lingga Hyang adalah simbol keagamaan mereka sebagai raja penganut Hindu-Budha Tantrayana yang diperdewakan sebagai Dewata. Raja Bingba yang menjelang akhir hayatnya menjadi pertapa dan meninggalkan putra yaitu Arya Banga dan Ciung Wanara telah menguasai sebagian dari wilayah Jawa Tengah sebelah selatan-barat. Kisah Arya Banga dan Ciung Wanara sangat dikenal oleh masyarakat Sunda maupun Jawa Tengah. Yang perlu dipertanyakan di mana letak kerajaan Pekalongan dan siapa raja yang memerintah Pekalongan pada tahun 1133 Masehi.
Tak ada sumber informasi yang lebih akurat mengenai sejarah Pekalongan pada masa abad XII Masehi kecuali dari naskah sunda tersebut di atas. Namun melihat dari struktur masyarakat yang melukiskan situasi masa Pekalongan kuno sejak awal masa pra sejarah hingga masa Mataram Kuno Jawa Tengah menunjukkan pusat-pusat pemerintahan kerajaan berada di wilayah selatan di tepian pantai kuno Pekalongan. Sesuai dengan perkembangan geomorfologi sebelum terjadinya sedimentasi pemukiman dan kegiatan masyarakat budaya Pekalongan berada di selatan yang ditengarai sebagai pelabuhan. Di wilayah Doro, Kajen, Linggoasri, Kesesi, Wonopringgo, adalah tempat bekas pemukiman kuno yang meninggalkan artefak dan memiliki indikasi dengan kehidupan masyarakat Pekalongan kuno. Nama-nama yang memiliki kaitan dengan bahasa Jawa Kuno, Melayu Kuno dan Sansekerta telah menunjukkan adanya masyarakat yang dahulunya memiliki tradisi yang kaitannya dengan tempat pemukiman masa lalu.
Selain Doro yang pada masa Pekalongan kuno memiliki indikasi sebagai pelabuhan kuno kerajaan Pekalongan pada tahun 1133 yang disebutkan dalam naskah Cariosan Siliwangi dimungkinkan terletak di wilayah Kajen. Nama Kajen memiliki konotasi dari dua bahasa yaitu bahasa Jawa Kuno dan Jawa Baru pada periode abad XVI (Mataram Islam). Kajen dari asal kata Kahaji yang artinya milik raja atau boleh disebut milik keluarga raja. Pada bahasa Jawa baru Kajen memiliki kata sifat yang berarti aji (berharga) terhormat. Kemudian mendapat tambahan en yang menunjukkan sangat berharga atau sangat terhormat. Jadi di dalam uraian yang lebih luas dapat dikatakan bahwa tanah (wilayah Kajen) karena dahulunya sebagai tempat pemukiman raja merupakan wilayah yang dijunjung tinggi atau dihormati.
Barangkali sangat tepat apa yang dikatakan oleh seorang narasumber bapak Suraji, ketika dimintai keterangan oleh pemerintah kabupaten Pekalongan menunjuk Kajen sebagai pusat pemerintahan kabupaten Pekalongan yang baru. Sekarang ini Kajen kembali menjadi pusat pemerintahan kabupaten Pekalongan yang sudah 1200 tahun sebelumnya pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Pekalongan.

Menuju Pekalongan Baru
Sampai abad XIII Masehi hampir tak ada informasi mengenai kerajaan Pekalongan. Kronik tempatan maupun data-data sekunder yang dapat dikatakan sebagai sumber sejarah untuk mengetahui Pekalongan pada abad XII sampai XIII hampir dikatakan gelap. Sehingga dua abad lebih Pekalongan tidak bisa diketahui perkembangannya.
Pelabuhan Pekalongan baru diketahui setelah adanya ekspedisi Cheng Ho pada misi perjalanannya ke negeri seberang pada tahun 1431 – 1433. Kisah perjalanannya ditulis oleh Ma Huan, seorang sekretaris dan juru bahasa Cheng Ho, di dalam catatan perjalanannya ketika kembali dari Surabaya ke Palembang. Pada ekspedisi tersebut jalur yang ditempuh Cheng Ho melalui beberapa tempat di pantai utara Jawa antara lain Tamma (Demak), Wu Chueh (Pekalongan), Cheliwien (Cirebon), Ciluncha (Sunda Kelapa atau Jakarta). Wu Chueh ditafsirkan oleh K. Mills sebagai pelabuhan Pekalongan.
Pekalongan oleh penguasa Cina pada abad XI ketika kekuasaan Dinasti Sung sudah dikenal sebagai pelabuhan niaga. Akan tetapi ketika misi muhibah Cheng Ho mendarat di Pekalongan, pelabuhannya tidak lagi berada di gunung seperti yang ditulis oleh Chu-ju-kua dan Chou-ku-fei di dalam Ling-Waita-ita. Cheng Ho dengan armadanya harus memasuki muara sungai yang sudah maju ke utara sepanjang 25 kilometer (200 li) yang sudah dihuni oleh penduduk. Penduduk tersebut meliputi Cina dan orang-orang dari Arab. Next Here...

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus