INFORMASI BUAT PENGUNJUNG!!!

Owner Wapmild Sekarang Aktive Di www.sfm.9in.us

Mereka mendiami di sekitar sungai dan wilayah itu dikelilingi oleh hutan dan gunung yang berada jauh dari laut. Demikian Ma Huan di dalam Yang Yai Sheng Lan. Yang ditulisnya pada tahun 1451. Yang Yai Sheng Lan berarti pemandangan-pemandangan yang menawan hati mengenai pantai samudera, isinya menggambarkan akan alam dan tempat-tempat selama mereka berkunjung. Cheng Ho dalam ekspedisinya bertujuan untuk membangun hubungan antara Cina yang diperintah oleh Dinasti Ming sebagai kekuasaan baru di balik itu ada misi tertentu yang tujuannya untuk menangkap kembali Kaisar Cun Yung Wen alias Huiti dengan memperagakan kekuatan militer secara besar-besaran kepada negeri-negeri di manca negara.
Misi tersebut dilakukan Kaisar Huiti setelah adanya pergantian kekuasaan dari Dinasti Sung ke Dinasti Ming. Diketahui bahwa Huiti adalah seorang kaisar Tiongkok dari Dinasti Sung terakhir yang berhasil dijatuhkan oleh Chuti dari Dinasti Ming.
Ekspedisi maritim besar-besaran yang dilakukan Cheng Ho ke seluruh negeri dari 37 negara yang disinggahinya, di samping merupakan perjalanan diplomatik dan militer juga membawa misi dagang. Kesempatan ini juga digunakan untuk mengetahui warga Tionghoa semasa Dinasti Tang yang berada di negeri seberang. Catatan Ha Ma huan tentang keadaan penduduk dan perdagangan di pelabuhan pantai Jawa yang disinggahi hampir sama.
Di Gresik banyak sekali pedagang asing yang datang dari berbagai daerah. Batu-batu berharga dan barang-barang berasal dari luar dijual dalam jumlah besar. Penduduk Gresik sangat kaya, penduduknya kurang lebih 1000 keluarga sebahagian di antaranya Tionghoa. Di Majapahit kebanyakan orang-orang Tionghoa berasal dari pusat kerajaan Tiongkok (Ma Huan di dalam Zing Yai Seng Lan).
Di Pekalongan yang oleh Ma Huan disebut Wu Chueh sudah dijumpai adanya pemukiman penduduk Tionghoa dan Arab. Penduduk Tionghoa mendiami tempat dekat muara sungai. Jumlah penduduk Pekalongan rata-rata kurang dari 1000 jiwa. Disebutkan bahwa pelabuhan di Pekalongan mempermudah pengangkutan dari daerah gunung (pedalaman). Ma Huan tidak menyebutkan letak tata kota seperti halnya kota Majapahit yang disebutkan secara rinci. Namun sebagai tempat yang disinggahi kelompok pemukiman Tionghoa, ekspedisi besar untuk meninjau Pekalongan sebagai pelabuhan sangat penting.
Yang disebutkan Ma Huan, muara sungai yang dijadikan pelabuhan di Pekalongan adalah sungai Kupang atau sungai Loji yang merupakan penghubung pantai baru dengan daerah pedalaman. Sungai Kupang berhulu di bawah pegunungan Ragajembangan (Lembah Silurah) yang membelah perbatasan antara kabupaten Pekalongan dan kabupaten Batang. Sepanjang aliran sungai tersebut sejak dahulu kala sampai muaranya berada di pantai Pekalongan sekarang telah menjadi jalan penghubung antara Pekalongan pantai dan penduduk Pekalongan pedalaman. SEJARAH LENGKAP PEKALONGAN.(Klik)

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus RSSground.com