Alur Pekalongan batas wilayah pesisir utara Jawa Tengah dengan wilayah pegunungan Serayu Utara (gunung Perahu, Rogojembangan, Dieng) di wilayah eks-karesidenan Pekalongan dan eks-karesidenan Semarang tampak merupakan kelurusan (linemaent) yang diinterpretasikan sebagai sesar atau kekar yang berkembang menjadi lembah yang lebar. Atas uraian dari penelitian Tjia dkk serta Bemmelen, Sutoto, SU mengambil kesimpulan bahwa kondisi wilayah pesisir utara pada eks-karesidenan Pekalongan akan sama dengan kondisi geologi posisi di wilayah eks-karesidenan Semarang. Batas-batas antara laut dan darat merupakan sesar (patahan). Pantai sebelum terbentuk endapan aluvial (eqsa) merupakan laut yang dalamnya 100 – 150 meter. Dan bentangan laut tersebut akan mengalami kecepatan sedimentasi aluvial yang rata-rata 8 meter pada delta-delta kecil.
Dengan analisanya Sutoto, SU telah memprediksikan bahwa kecepatan sedimentasinya di wilayah eks karesidenan Pekalongan, sesuai dengan penelitian Bemmelen bahwa pada 500 tahun yang lalu pantai Semarang berada di candi yang elevasinya 25 meter dari permukaan laut sekarang. Pada 500 tahun yang lalu di daerah Slawi, di selatan Brebes sudah maju ke arah laut akibat sedimentasi endapan aluvial vulkanik (qa) yang bersumber dari Gunung Slamet.
Pantai di daerah Pekalongan seperti Doro, Kedungwuni, Kajen, di selatan Pekalongan, maju ke arah laut akibat sendimentasi endapan aluvial vulkanik (qt) dari gunung Rogojembangan. Dengan analisa dari Bemmelen, Sutoto, SU dan Tjia dkk dapat dijadikan sumber untuk menentukan bahwa di wilayah hunian pada masa pra-sejarah sampai masa sejarah dahulunya bermukim di pantai kuno Pekalongan.
Barangkali hasil penelitian Van Bemmelen, yaitu geolog Belanda yang menempatkan batas pantai kuno (purba) jawa utara pada 1700 tahun lalu yang kalau boleh disebut sebagai garis patahan, terhadap garis pantai Jawa Tengah yang sekarang. Untuk menandai kedalaman laut pada waktu itu setinggi 150 meter, bila diukur dari kota Pekalongan saat ini berada di wilayah Kedungwuni.
Pantai purba sekarang kira-kira berada di wilayah pegunungan selatan kota Pekalongan sepanjang pegunungan Rogojembangan. Bemmelen menandai ada nama-nama pelabuhan yang ada pada pantai purba sekarang di wilayah pegunungan yaitu wilayah bukit candi di Semarang, Boja di Kendal, Celong dan Bandar di wilayah Batang, Doro di Pekalongan, dan Bumi Jawa atau Linggapura di Slawi, Tegal. Untuk membuktikan bahwa daerah tersebut dahulunya bekas laut, seorang bekas mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung dan juga seorang ulama sufi Habib Syekh Ahmad Syakir telah meneliti dan menemukan fosil-fosil dari binatang purba yang ada di sekitar hulu sungai Simongan, Ungaran.
Kemudian di Pekalongan, laporan seorang geolog dari Dinas Pertambangan Jawa Tengah-Barat menyampaikan bahwa di tempat tinggalnya di wilayah Buaran Pekalongan ketika menggali sumur dengan kedalaman 3 meter sudah menemukan pasir laut dan fosil-fosil binatang laut. Pada penelitian geomorfologi yang diadakan oleh Fakultas Geologi UGM (Rosita Sari dan Efendi serta Sutoto, SU yang tidak dipublikasikan dan tidak diteruskan) telah mengadakan ekskavasi dengan membuka tespit di formasi Kajen. Hasilnya menunjukkan adanya temuan fosil laut dan keramik asing.
Dengan demikian merujuk pada teori Bemmelen yang menyimpulkan bahwa kota pantai Jawa Tengah di bagian utara Jawa Tengah sejak dari Semarang hingga Brebes, dibangun pada saat mulainya daerah tersebut sudah menjadi daratan. Berdasarkan hasil studi pustaka mengenai pembagian masa kesejarahan dapat dibagi sebagai berikut : - Masa pra-sejarah kurang lebih 3 juta tahun lalu hingga 1500 tahun lalu. Masa sejarah 1500 tahun lalu hingga sekarang. - Masa Mataram Kuno 1200 tahun lalu sampai 1000 tahun lalu dan Masa Mataram Baru 500 tahun lalu hingga 50 tahun lalu.

Nama Pekalongan Pada 1200 tahun Lalu
Pekalongan pada 1200 tahun lalu memasuki abad sejarah (masa klasik Hindu Jawa). Setelah sekitar 700 tahun sebelumnya Pekalongan berada pada masa pra-sejarah. Bersamaan dengan ramainya repatriasi para penguasa dan pendeta dari India ke Asia Tenggara, pulau-pulau kawasan Asia Tenggara yang dijadikan sasaran migrasi, salah satunya adalah pulau Jawa. Orang-orang India, baik dari Bangladesh maupun Trambalinga (Thailand) menyebutnya sebagai java dipa yang artinya dalam bahasa Sansekerta adalah pulau penghasil padi. Dan para rahib Budha di Nakon Phaton Thailand pada abad VI Masehi menyebut Sumatera dan Jawa sebagai Swarna dipa (pulau emas). Sementara itu dalam periode yang sama abad VII – VIII Masehi kekaisaran Cina yang membawahi kerajaan-kerajaan merdeka antar pulau di Asia Tenggara yang masa itu di bawah Dinasti Sung, menyebutnya sebagai Poe-Chue-Lang (Che-poe) dan Chao Ju-Kua seorang penulis kerajaan kekaisaran Cina yang pernah datang ke pulau tersebut menuliskannya di dalam karyanya Ling-wai-tai-ta tahun 1278 menyebut Poe-Chue-Lang (pulau penghasil padi) sebagai nama dari Che-poe. Pada masa Dinasti Sung abad ke VI kerajaan merdeka di Jawa setelah kerajaan Hindu Sunda Tarumanegara, di Jawa Tengah muncul kerajaan Mataram Kuno di bawah dinasti raja Sanjaya dan Syailendra. Kerajaan ini telah berjaya selama dua setengah abad dengan meninggalkan tradisi budaya jawa kuno baik berupa bangunan-bangunan monumental seperti candi maupun tradisi kuno yang bersifat agraris.
Tak ada sumber sejarah Mataram Kuno abad VIII - X Masehi baik di bawah Sanjaya maupun Syailendra Next Here...

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus