Jasa Buat Web | Tulis Artikel Dan Bisnis | program paid review dan pembuatan Private Label Article | Harga Terjangkau Dan Aman

Garis - Pekalongan kuno telah memasuki masa klasik

Profile
Diposting oleh Saif Mild Hingga Saat ini

TRANSLATE THIS PAGE: YES?

TRANSLATE THIS PAGE

Dari daerah yang kita sebutkan di atas sekarang merupakan daerah tingkat kecamatan yang membawahi desa-desa yang masuk wilayah daerah Pekalongan.(Klik) Daerah-daerah itulah yang pada masa abad VIII – XII Masehi telah mengalami kehidupan sebagai masyarakat jawa kuno. Masa abad VIII – XII Masehi adalah masa kehidupan budaya nusantara Hindu-Budha Jawa Tengah. Masyarakat Pekalongan kuno telah memasuki masa klasik mengikuti struktur pemerintahan yang dikuasai oleh keturunan Syailendra dan Sanjaya. Kedudukan kerajaan dimungkinkan pada awalnya berada di wilayah utara sekitar Kabupaten Batang (yaitu di daerah Limpung dan Bawang). Prasasti yang berada di desa Sojomerto kecamatan Limpung kabupaten Batang, jelas-jelas mengatakan adanya penguasa baru yang menyebut dirinya sebagai Dapunta Syailendra (tentang keberadaan dan posisi jaman Hindu-Budha di utara lihat Bab Pekalongan Pada Jaman Hindu Budha).
Prasasti tersebut berbahasa Melayu Kuno, yang isinya menerangkan riwayat keluarga Syailendra dan kedudukan sebagai penguasa di wilayah Jawa Tengah di bagian utara. Yang paling menarik perhatian adalah gelar Dapunta dan bahasa melayu yang digunakan untuk menulis prasasti tersebut. Di Jawa, gelar Dapunta oleh de Casparis digunakan oleh pembesar beragama Siwa. Di Sumatera raja Sriwijaya juga menyebut Dapunta Marhiang. Pada prasasti Sriwijaya yang berbahasa Melayu jelas gelar Dapunta Hyang digunakan oleh penguasa Sriwijaya. Mengingat prasasti Sojomerto ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, sedangkan bahasa Melayu Kuno ialah Sumatera Selatan, oleh karena itu sejarahwan Slamet Mulyono menyatakan kiranya Dapunta Syailendra ialah orang pendatang dari Sumatera Selatan.
Prasasti Sojomerto ditemukan tepat di pertigaan jalan dua kilometer dari Limpung ke Bawang di kabupaten Batang dan ke baratnya melalui jalan kuno yang menghubungkan antara Bawang, Limpung, Reban, Bandar, Talun, Doro dan Kajen. Secara topografi jalan ini membentang menyusuri lembah-lembah kaki bukit pegunungan Rogojembangan yang kemungkinan sejak dahulu kala merupakan urat nadi untuk menghubungkan wilayah utara dan selatan. Oleh karena itu letak desa-desa masa Pekalongan Kuno sebelum terjadinya sedimentasi merupakan bagian dari kekuasaan Wangsa Syailendra. Sampai wangsa ini mengalihkan kerajaannya ke pedalaman (di wilayah Yogyakarta, akan tetapi kedudukan pelabuhannya tetap berada di pantai kuno Pekalongan dan Batang).
Diketahui bahwa Wangsa Syailendra adalah penguasa pendatang dari Sumatera Selatan yang berbahasa Melayu. Dapat dimengerti apabila pada masa Syailendra abad VII – VIII Masehi terjadi proses pemelayuan bahasa sehubungan adanya peralihan kekuasaan dari Sanjaya ke Syailendra. Karena Syailendra berasal dari masyarakat melayu perubahan nama-nama, tempat ataupun gelar jabatan kepala daerah diganti dengan nama-nama Melayu, Jawa Kuno dan Sansekerta. Bahasa Sansekerta biasanya digunakan pada tingkat-tingkat kerajaan. Pe-melayu-an nama-nama tersebut dikenakan pada nama desa atau wilayah menurut nama kepala daerahnya. Desa yang disebut Wanua dan Sima (desa tingkat Swatantra) seperti Kajen, Petungkriono, Talun, Wonopringgo, Silurah, Bandar, Doro memiliki konotasi yang berkaitan dengan bahasa Melayu, Jawa Kuno maupun Sansekerta.
Desa atau Sima biasanya memiliki kaitan dengan kegiatan masyarakatnya dalam pranata desa (wanua) Sima dan percandian tempat pemujaan ataupun pemerintahan. Seperti Silurah (Lurah) berarti lembah. Suatu lembah yang terletak di hulu sungai Kupang atau Loji di perbatasan antara wilayah kabupaten Pekalongan dan Batang. Di lembah Silurah terdapat peninggalan kuno sebagai tempat pemujaan hindu berupa kolam untuk upacara keagamaan. Rogoselo berarti kumpulan batu (bahasa Jawa Kuno). Di Rogoselo kita dapatkan peninggalan masa pra sejarah dan pada periode Islam telah dijadikan makam Islam yang disebut sebagai Syekh Rogoselo. Doro berasal dari bahasa Sansekerta Daro yang artinya lembah. Di tempat tersebut terdapat peninggalan-peninggalan Hindu-Budha dan diperkirakan merupakan pelabuhan kuno. Kajen dari kata Ka-Haji (Driya-Haji) yang artinya wilayah keluarga raja. Pada bahasa Jawa baru, Kajen diartikan sebagai Aji (berharga), suatu wilayah yang dijunjung sebagai tempat yang terhormat. Ibukota pemerintahan kabupaten Pekalongan sekarang berada di Kajen. Desa (Sima) yang letaknya lebih jauh lagi ke pedalaman mendekati dataran tinggi Dieng adalah Petungkriono. Petungkriono terdiri dari dua kata Petung dan Kriono. Petung dari kata Betung dalam bahasa Melayu Kuno yang artinya Rumpun Bambu. Nama Betung pada masa pemerintahan Mataram Kuno sering dipakai sebagai nama orang atau sungai. Kriono asal dari kata Rakyana (karayan) nama suatu jabatan kepala pemerintahan wilayah Sima. Sebutan Rakyan berasal dari kata Rakai. Jadi Petungkriono dapat diartikan sebagai nama Rakyan Betung. Dengan melihat peninggalan-peninggalannya di kecamatan Petungkriono yang terdapat beberapa fragmen candi dan arca serta lingga menunjukkan bahwa wilayah tersebut dahulunya merupakan suatu pusat pemerintahan tingkat Sima atau Swatantra, menurut sistem pola pemerintahan Mataram Kuno.
Di desa Linggo asri, Telaga Pakis, Petungkriono adalah desa-desa yang telah menjadi Sima (daerah perdikan Swatantra) yang memiliki bangunan suci. Kedua desa tersebut sebagai pusat agama dan pusat pemerintahan yang diketahui melalui bukti-bukti peninggalan purbakala tersebut di atas. di Linggoasri terdapat pura hindu Next Here....

14 Dec 2015

Comments powered by Disqus

BUAT WEB SEPERTI INI GRATIS: BUAT